Jumat, 20 Juli 2018 07:39

Farras Syaifra: Silahturahmi Asik di Banyuwangi

Written by  Afifah Sausan Mahasiswi STTNF
Rate this item
(0 votes)

Hampir setiap lebaran saya dan keluarga pulang ke kampung halaman ayah di Banyuwangi. Setiap lebaran hari ke 1 sampai hari ke 3 kami bersilaturahim ke seluruh sanak saudara yang ada di daerah Banyuwangi-Jember, karena Idul Fitri adalah momentum yang tepat untuk bersilaturahim. Setelah itu seperti biasanya, di hari ke 4 kami berkunjung ke destinasi wisata yang ada disana. Setiap saya mudik ke Banyuwangi, banyak pengalaman, cerita, pelajaran, dan hal lainnya yang saya dapatkan, seperti pembelajaran hidup yang tak kita temukan di bangku sekolah atau kuliah.

Destinasi yang pertama kami kunjungi ialah Waduk Sidodadi Glenmore, Banyuwangi. Disana saya menaiki ATV dengan adrenaline yang bisa dikatakan “wah” dimana saat itu saya menyerah untuk mengendarainya karena harus melewati sungai, berkeliling pohon tebu, dan mengelilingi pabrik gula. Selalu menyenangkan dan tak pernah kecewa dengan destinasi yang ada di Banyuwangi. Langitnya yang indah, ditambah cuacanya yang mendukung, adem, sejuk juga pastinya, hehe. Namun, karena hari mulai malam, saya pun bergegas untuk kembali ke rumah Mbah Uti.

Ketika sampai di rumah Mbah Uti, hal yang terfikirkan dalam benak saya ialah “duh, sebentar lagi UAS, kayanya harus pulang duluan”. Dan bergegaslah saya untuk menanyakan kapan akan kembali ke rumah kepada ayah dan bunda. Namun tak lama sepupu-sepupu saya menanyakan tentang rencana kami untuk pergi ke Kawah Ijen, salah satu destinasi yang tertulis di bucketlist saya di 2018 ini, selintas terfikirkan “mending pulang duluan atau ikut ke ijen ya?”, tapi kayaknya kalau pulang duluan terus mereka ke ijen, bakalan nambah pikiran juga. Akhirnya saya memilih untuk ikut ke ijen, karena tentu saya akan mendapatkan pengalaman baru lagi, dan tentunya bisa menceklis salah satu bucketlist di 2018 ini.

Tepat pukul 11.00 am, saya dengan para sepupu saya bergegas untuk berangkat menuju the place I dreamed of, Kawah Ijen, Banyuwangi. Salah satu tempat yang unexpected. Dimana Kawah Ijen dikenal dengan Blue Firenya yang katanya hanya ada dua di dunia, yang satu lagi di Islandia kalau gak salah. Ijen mempunyai pemandangan yang indah sekali, benar-benar good looking sekali.

Saya didampingi oleh Pakde yang bekerja di PTPN daerah Kawah Ijen, jadi saya mempunyai seorang guide yang memang cukup handal dalam masalah pegunungan. Tibanya kami di titik start pendakian kawah ijen pukul 01.15 am, lalu memulai pendakian pada pukul 01.30 am diawali dengan baca doa agar selamat kembali sampai di rumah.

Di perjalanan pendakian saya menjumpai beberapa taksi untuk mengangkut penumpang sampai di puncak, taksi yang dimaksud disini bukan taksi mobil yang ada AC-nya, taksi beroda dua ini cukup ramah lingkungan karena bertenaga energi manusia, yang biasa digunakan oleh abang-abangnya untuk menambang belerang (ijen dikenal dengan banyak bapak-bapak penambang belerang yang biasa mengangkut belerang sampe puluhan kilo, MasyaAllah). Tapi ternyata harga taksi berkisar 600 - 800 ribu untuk pulang pergi.

Seperti biasanya, setiap pendakian pasti ada yang mau menyerah, tapi bukan berarti kalah. Pada saat itu kami saling menguatkan untuk tetap sampai di puncak Kawah Ijen agar bisa melihat blue fire. Jalur pendakiannya bisa dibilang lumayan jauh jarak dan jalurnya kecil. Walaupun jalurnya udah diperlebar, nanjaknya masih lumayan. Tepat pukul 04.00 am, Saya sampai di puncak kawah ijen, ternyata untuk melihat blue fire kami harus menggunakan masker oksigen, dan katanya cukup berbahaya juga.

Kami menunggu waktu subuh dan meanti waktu sunrise tiba. Selama menunggu, ada beberapa yang tertidur, ada yang berusaha menghangatkan tubuhnya, karena kabut yang benar-benar tebal ditambah anginnya yang cukup kencang. Ketika matahari datang, kabut diatas kawah ijen pun hilang, dan ketika melihat Kawah Ijen secara langsung, disitu benar-benar teringat kalimat فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ dalam hati. Rasa bahagia pada saat itu benar-benar tak terdefinisikan, salah satu isi buckelist saya di 2018 benar-benar luar biasa. Saya benar-benar takjub melihat kekuasaan Allah yang satu ini. Karena keadaan tubuh yang mulai lapar dan kedinginan, saya pun bergegas untuk kembali turun, pastinya foto-foto dulu sebelum turun.

Di perjalanan turun, saya pun terhenti kembali, ternyata jalur pendakian yang semalam saya lewati begitu luar biasa, benar-benar di luar ekspetasi, namun karena keadaan lapar saya hanya berhenti sekejap dan melanjutkan perjalanan di pos 2. Disitu saya memesan pop mie dan teh hangat, yang harganya bisa dibilang cukup terjangkau. Lalu kembali untuk turun menuju parkiran. Di Ijen ada WC yang terleta di awal start dan di pos 2. Selain itu bisa juga ditemukan WC disekitar jalur pendakian, namun keadaannya jauh berbeda dengan WC yang ada di awal start pendakian dan di pos 2.

Kembali ke perjalanan, tibanya di parkiran saya langsung naik mobil untuk kembali ke rumah Mbah Uti, dan berhenti sekali di rumah makan untuk mengisi energi yang terkuras setelah pendakian di Kawah Ijen. Sesampainya di rumah, Tante dan Bude menanyakan tentang perjalanan kami, akhirnya singkat cerita kami pun terlelap seharian.

Keesokan harinya, Ayah saya memberitahukan bahwa kami akan pulang pada hari Jum’at, 22 Juni 2018, mengingat saya sebelumnya meminta untuk pulang terlebih dahulu dikarenakan sebentar lagi akan menempuh UAS. Dibilang sedih, pasti. Harus meninggalkan Banyuwangi yang mempunyai langit nan indah dan sanak saudara , tapi apalah daya, masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikaan.

Akhirnya, saya kembali ke tempat asal, Bojong Gede. Mudik kali ini begitu berkesan dengan keindahan alam Banyuwangi ditambah dapat berkumpul dan bersilaturahim dengan sanak saudara yang ada disana. Inilah hal yang tak dapat dibeli dengan materi, indahnya berkumpul bersama, menyambung silaturahim di hari penuh kebahagiaan.

Saudara-saudara kita akan menjadi tameng api neraka kita, maka berbuat baiklah pada mereka. Sungguh, saudara kita akan menjadi penghalang siksa dan azab himpitan liang kubur (Tere Liye).

Read 275 times Last modified on Senin, 23 Juli 2018 02:56